Masukan untuk Poster Caleg Pemilu 2009

Anda pernah melihat poster atau baliho caleg Pemilu 2009 dari kalangan artis terkenal? Poster atau baliho si artis tersebut tidak ada bedanya dengan yang anda buat bukan? Menampilkan foto gagah atau cantik dan muda (kalau perlu para caleg mencari-cari foto masa 5 atau 10 tahun lalu), berjas partai,  rayuan untuk memilihnya (mencontreng) dan sebagainya. Jikalau si caleg tersebut mampu menggali potensi  (lebih dalam) yang sudah melekat pada dirinya, saya kok yakin poster atau baliho mereka akan lain dari pada yang lain dan punya daya tarik tertentu.

Sebenarnya apa sich ‘target yang akan diraih’ caleg dengan memasang poster atau baliho tersebut? Ada beberapa jawabannya. Pertama, sebagai cara memperkenalkan diri si caleg kepada calon pemilih. Kedua, agar foto-nama si caleg-partai-daerah pemilihan-dan nomor urutnya diingat dan melekat pada pikiran si calon pemilih. Ketiga, ‘memohon’ dan ‘merayu’ serta  ‘meminta’ calon pemilih agar memilihnya.

Untuk ketiga poin jawaban di atas, jika anda seorang caleg yang biasa-biasa saja dan belum punya nama (belum terkenal, bukan caleg yang punya akar dari daerah pemilihan bersangkutan) tentu saja anda akan kalah 1 (satu) langkah dalam ‘pertempuran’ dengan si caleg terkenal tersebut. Setidaknya anda harus berusaha 2 (dua) kali lipat atau lebih untuk menyamai si caleg terkenal sebagai ‘pesaing’ dimaksud (baik dari internal maupun eksternal partai politik yang mengusungnya).

Sebagai caleg yang biasa-biasa saja, poster atau baliho yang anda pasang memang dilihat orang-orang yang melintas. Tapi untuk memilih anda? Masih perlu pembuktian yang kualitatif. Di Jakarta Timur tempat saya bermukim, misalnya, banyak poster-spanduk-baliho caleg yang dipasang. Setiap hari saya melihatnya. Namun tetap saja yang melekat dalam pikiran saya, yakni poster atau spanduk atau baliho milik HR Agung Laksono Caleg DPR-RI dari Partai GOLKAR. Bukan apa-apa, soalnya HR Agung Laksono cukup terkenal. Kapasitasnya sebagai Ketua DPR-RI atau Ketua Harian Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilihan Umum (BAPPILU) Partai GOLKAR, yang hampir setiap hari berita tentangnya muncul di media massa memungkinkan orang mengenal dan mengingatnya. Atau poster-spanduk-baliho yang dilansir Caleg DPR-RI Pemilu 2009 dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah V, Puan Maharani. Siapa calon pemilih di Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten dan Kota Solo yang tak mengenal Puan Maharani? Di samping nama Puan berada di urutan No 1 Caleg PDI Perjuangan, dia juga salah seorang Pengurus DPP PDI Perjuangan, dan anak kandung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri. Ditambah kenyataan bahwa daerah-daerah tersebut sejak puluhan tahun lalu sebagai basis tradisional PDI Perjuangan, dan seringnya Puan Maharani turun ke bawah menyapa calon pemilihnya maka agaklah repot bagi pesaing-pesaing Puan di dapil tersebut untuk menyamai bahkan melampaui tingkat penerimaan pada calon pemilih.

Namun demikian selalu ada saja celah bagi anda untuk berimprovisasi menembus dinding komunikasi politik yang sedikit saya paparkan di atas. Dosen Fisip Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Novel Ali, pernah menulis, komunikasi politik bersifat intensional. Oleh karena itu, setiap kegiatan komunikasi politik mensyaratkan beberapa hal penting, yaitu: 1. perencanaan yang matang, 2. tujuan yang terukur, dan 3. sasaran yang mudah diindentifikasi.

Ketiga prasyarat minimal tadi, sambung Novel Ali, mendorong perlunya bukan hanya informative communication (komunikasi sarat informasai), tetapi juga persuasive commnication (komunikasi yang berhasil mempengaruhi sasaran). Komunikasi politik tidak akan membawa manfaat apa-apa jika hasilnya tidak berwujud perubahan pendapat, sikap dan perilaku sasaran.

Untuk itu, sebagaimana pernah disarankan Wilbur Schramm, pakar ternama komunikasi, syarat utama kesuksesan komunikasi termasuk komunikasi politik adalah know your audience (dalam konteks tulisan ini mengetahui dan memahami konstituen anda). Tanpa kemampuan kita “membaca, memahami dan menjiwai” konstituen yang akan digapai, sangatlah mustahil target yang akan diraih dicapai (saya jadi ingat mata kuliah zaman kuliah dulu).

Nasehat Sun Tzu, seorang ahli strategi dan taktik  bisa menjadi referensi para caleg Pemilu 2009. Sun Tzu dalam The art of War pernah berkata, “Kenali dirimu dan kenali musuhmu maka dalam seratus pertempuran engkau tidak akan kalah”. Atau kalau mau mendalami teknik propaganda, jangan lupa dengan nama Menteri Propaganda Era Nazi Hitler,  Joseph Goebbels. Teknik-teknik propagandanya untuk mempopulerkan Partai Nazi dan pribadi Adolf Hitler patut diacungi jempol dan masih relevan dengan kenyataan politik kita hari ini.

Kembali ke jalur tulisan ini. Oleh karenanya, beberapa masukan yang patut dipertimbangkan bagi caleg legislatif Pemilu 2009 untuk membuat dan mempublikasi poster-spanduk-baliho pada ‘pesta rakyat’ Pemilu 2009 antara lain:

  • Cobalah berimprovisasi untuk membuat dan mendisain poster-spanduk-baliho anda dengan disain lain daripada yang lain. Anda, misalnya, bisa membuat karikatur foto diri anda sendiri (sedikit lucu, agak mengecilkan diri anda sendiri dibanding calon pemilih atau minimal sama derajat dengan calon pemilih). Salah satu yang membuat acara talkshow “Bukan Empat Mata” Tukul Arwana di Trans TV melambung tinggi dan berkesan di hati pemirsanya lantaran Tukul acap ‘mengecilkan’ dirinya. Coba bandingkan bila di poster, anda memakai jas lengkap dan perlente sedangkan calon pemilih jauh di bawah standar anda. Wow, alangkah menganga jarak yang terentang antara anda dengan calon pemilih!

  • Selain karikatur foto si caleg, anda bisa juga membuat dan mendisain seluruh poster yang berisi karikatur yang menggambarkan suasana lokal aktual yang berkembang di tengah masyarakat daerah pemilihan tersebut. Dengan berempati pada persoalan lokal aktual di tengah masyarakat, paling tidak nama anda akan diingat calon pemilih. Di publikasi tersebut, foto, nama anda, no urut, partai politik, daerah pemilihannya tetap harus dicantumkan sekalipun dalam font/ukuran kecil.

  • Dengan menerapkan teknik propaganda Goebbels, anda bisa membuat gambar, kata-kata, ungkapan atau jargon yang mengenai jantung target calon pemilih. Sebisa mungkin gambar atau jargon tersebut cukup ‘menggemparkan’ publik. Kalau sudah ‘menggemparkan’ publik, tinggal dikelola saja bagaimana poster-spanduk-baliho tersebut menjadi perbincangan masyarakat serta media massa lokal berkenan memuat dalam pemberitaannya.

Kreativitas dan kemampuan imajinasi anda dalam menuangkan bentuk-bentuk peraga kampanye Pemilu 2009  (yang lain dari pada yang lain atau mungkin dianggap aneh dan ‘nyleneh’),  saya rasa akan turut mempengaruhi target perolehan calon pemilih yang akan memilih anda. Namun segalanya berpulang kembali pada anda sebagai caleg legislatif Pemilu 2009.  Cukup dengan disain poster-spanduk-baliho yang sudah ada, ya silakan. Atau mau mencoba menerapkan gagasan kecil ini? Juga silakan.

Kembali ke Sun Tzu. Tetap saja sebelum anda berimprovisasi untuk membalikkan keadaan yang kurang menguntungkan, nasehatnya layak kita ikuti, “Kita harus selalu mengubah aksi kita. Sekali saja musuh mampu mencium aksi kita, dengan mudah kita akan dikalahkan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: