Sarjana atau Sarjani bin Sarjono

Sarjana adalah gelar akademis yang di berikan oleh lembaga atau institusi formal kepada seseorang yang menempuh pendidikan tinggi. Gelar sarjana yang diberikan bukan asal – asalan tapi memiliki syarat – syarat tertentu bahkan memakan waktu yang lama 4 – 5 tahun lamanya, tahapan yang dilalui pun tidaklah semudah yang dibayangkan bila ditinjau dari sudut yang sesungguhnya atau maksud dari pendidikan itu sendiri, tapi adalah sesuatu yang mudah dan gampang untuk mendapatkanya bila ditinjau dari sudut yang tidak sebenarya, atau dengan bahasa lain “yang penting sarjana” yang sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri baik ditinjau dari sudut hukum Agama (Islam) dan tujuan pendidikan berdasarkan undang – undang yang berlaku.

Ada banyak cara pandang seseorang terhadap sarjana (Only Indonesian people maybe), bagi sebagian orang Sarjana adalah sebuah gelar yang diproleh dengan tanpa memperdulikan makna yang sesungguhnya dan sebagian lagi memang mencari dan mengejar serta memahami makna yang sesungguhnya, itu semua tergantung kepada apa yang ingin dicapai oleh seseorang. Secara garis besar, maka ada dua kelompok sarjana di Indonesia pertama adalah para sarjana yang memberi nilai positif kepada dirinya sendiri bangsa dan Negara sedangkan yang kedua adalah sarjana yang memberi nilai negative kepada orang lain serta bangsa dan Negaranya. Dari kedua kelompok tersebut diprediksi jumlah terbanyak di negeri ini masih didominasi oleh para sarjana yang memberi nilai negative, sebagai indikasinya dapat dilihat dari banyaknya jumlah sarjana – sarjana mafia di Indonesia. Yang paling mengerikan dari kelompok ini adalah para sarjana – sarjana yang punya backround agama sebagai latarbelakang pendidikan tapi berlaku sebagai mafia di republic ini. Kalau dulu kita mungkin hanya mendengar mafia narkoba, mafia senjata dll, sekarang sudah ada mafia Haji, sungguh sebuah pemandangan yang mencengangkan, dimana para pelakunya adalah orang yang bergelar sarjana.

Saya pernah punya pengalaman yang menurut saya sangat lucu kelihatannya. Pada suatu hari, saya pernah bertemu dengan seseorang yang awal mulanya saya sangat bangga padanya disamping wawasanya yang begitu luas dan seorang sarjana, menurut saya dia adalah orang yang layak menjadi pemimpin di negeri ini kalaupun tidak saya kira layak untuk dibanggakan, beberapa hari kemudian secara tidak sengaja saya melihat dia kembali. Tapi ada yang aneh menurut apa yang saya lihat dan saya benar – benar tidak percaya, pada hari itu ia sedang membawa sebuah kantong plastik yang berisikan sampah dan membuangnya begitu saja di jalanan. Ini benar – benar lucu dan aneh seorang sarjana yang pernah bercerita begitu bersemangat, yang penuh gairah bahasanya yang memukau, kalimatnya menyambung dan mengalir bak puisi, indah kesanya seperti bait – bait syair tapi disisi lain ia justru berbuat dengan tidak layak, ia dengan gampangnya membuang sampah dijalan dan tak layak disebut sebagai prilaku yang khilaf, saya benar – benar bersyukur kepada Allah Swt yang tidak menjadikanya pemimpin di Republic ini, bagaimana tidak!!! Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi seorang sarjana yang berwawasan luas justru tingkat membuang sampah saja belum beres. Bagaimana mau ngurusin persoalan republik ini yang begitu ruwet dan komplit. Dari pengalaman itu sekarang ini saya benar – benar membuang sebuah pepatah dari kehidupan saya yang sering disebut – sebut oleh orang, lebih kurang begini ungkapanya “ Penampilanmu menunjukan kepribadianmu”. Saya benar – benar membuang jauh – jauh pepatah ini dari kehidupan saya.

Sedikit saya tambahkan, ini adalah fenomena lain dan ini bukan pengalaman saya tapi pengalaman salah seorang rekan saya. Bahwa beliau pernah membaca sebuah buku (maaf saya lupa judulnya) dan ia bilang ke saya, di dalam buku itu dikisahkan pada suatu hari ada sekitar 7000 sarjana yang diwisuda dari jumlah tersebut hanya ada 3 (tiga) orang yang berani maju ke depan dan menyatakan sikap dan impianya, ketiga dari mereka mengutarakan niatnya masing – masing setelah menjadi sarjana sementara selebihnya tidak menyatakan sikap apapun alias tidak punya tujuan. Kita bisa bayangkan apa yang akan dilakukan oleh sarjana – sarjana yang tidak menyatakan sikap itu kepada bangsa dan Negara. Saya benar – benar tidak bisa menjelaskanya sementara kelak banyak dari mereka bakal menduduki posisi penting direpublik ini.

Ini adalah segelintir kisah para sarjana direpublik ini, sebelum saya lanjutkan perlu digaris bawahi bahwa tidak semua sarjana seperti yang saya ceritakan di atas, banyak juga Sarjana – sarjana direpublik ini pantas di acungkan jempol dan layak untuk dihargai bahkan menurut saya ada orang – orang tertentu kalaupun tidak mengenyam pendidikan tinggi layak disebut sebagai sarjana karena ide dan pemikiranya. Saya sering menyebut mereka dengan istilah sarjana sejati.

Yang menjadi pertanyaan hari ini adalah Bagaimana semestinya menjadi seorang sarjana???????????
Sampai detik ini pertanyaan ini masih sulit saya uraikan karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, apa barometer serta kelayakan seseorang untuk layak disebut sebagai sarjana, apakah hanya sebatas skripsi. Jika skripsi batasanya adalah sesuatu yang sulit mempercayainya karena skripsi di negeri ini sudah merupakan bagian daripada bisnis. Yang masih saya tau adalah tugas utama seseorang yang berniat menjadi sarjana atau telah menjadi sarjana yaitu Iqra (makna luas) dan mengimplementasikan dalam kehidupan nyata (versi pribadi)

2 Tanggapan

  1. salam kenal dari kami

  2. subhanaLLAH…
    andai presidennya Anda dan
    saya wakil presidennya….
    sama-sama kita setel pembangunan yang terkondisi
    artinya terkondisi pada kekuatan rakyat
    dan penghargaan atas achievement untuk rakyat…
    bukan sekedar embel-embel gelar dari sekolahan…
    apalagi honoris causa…
    or malah belijadi…
    hidup sekolah playgroup…
    xixixixi guyon for peace and development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: